Belajar dari Burung

September 26, 2008

Suatu hari Al-Balkhi berangkat ke negeri tetangga untuk berdagang. Sebelum berangkat ia pamit pada sahabatnya yang bernama Ibrahim bin Adham.

Namun tidak seperti biasanya, kali ini kepergian Al-Balkhi terhitung singkat sekali. Tentu saja ini membuat Ibrahim bin Adham heran. Tumben, belum seminggu kok sudah pulang ? Ibrahim yang ketika itu berada di Masjid lalu mengahampiri, “Hai saudaraku, mengapa kamu buru-buru pulang ?.”

Akhirnya Al-Balkhi menceritakan alasan yang menyebabkan dia segera kembali. ”Dalam perjalanan aku melihat suatu keanehan. Sehingga aku memutuskan untuk segera membatalkan perjalanan,” katanya tanpa basa-basi. Selanjutnya Al-Balkhi bercerita. Ketika dia beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak, sahabat Ibrahim bin Adham itu memperhatikan seekor burung yang pincang dan buta. Terbitlah keheranannya, ”bagaimana burung ini bisa bertahan hidup, padahal dia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya, matanya tidak bisa melihat, berjalan pun dia tidak bisa ?”


Ketakjuban pada pemandangan di depannya membuatnya tidak beranjak dari situ. Tak lama kemudian ada seekor burung lain yang bersusah payah menghampirinya. Burung yang baru datang dan sehat fisiknya itu membawa makanan untuk burung yang buta dan pincang. Seharian penuh Al-Balkhi memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata meski cacat, burung itu tak pernah kekurangan makanannya. Sebab berulang kali dikirimi makanan oleh temannya yang sehat. ”

Maka sampailah aku pada kesimpulan, ” kata Al-Balkhi pada Ibrahim bin Adham, ”Sang pemberi rizki telah memberikan rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya ini, kalau begitu, Dia tentu akan mencukupi rizkiku sekali pun aku tak bekerja !” lanjutnya. Karena itu Al-Balkhi memutuskan untuk segera pulang.

Mendengar penuturan Al-Balkhi yang jujur dan polos itu, sejenak Ibrahim bin Adham tertegun. ”Wahai Al-Balkhi, mengapa serendah itu pemikiranmu ?” kata Ibrahim. ”Mengapa kamu rela menyamakan derajatmu dengan seekor burung yang pincang lagi buta ?” lanjut Ibrahim tegas.

Lebih lanjut Ibrahim mengemukakan pendapatnya sekaligus nasehat. Dalam pemahaman Ibrahim, mengapa Al-Balkhi malah berpikiran mengikhlaskan dirinya untuk hidup atas belas kasihan orang lain ? Mengapa tidak menggunakan akal sehatnya ? Mengapa tidak mencontoh burung yang satunya lagi ? Burung itu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dan sahabatnya yang memang tak mampu bekerja. ”Apakah kamu lupa, tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah ?”

Mendengar jawaban Ibrahim yang cerdas dan mendasar itu, Al-Balkhi sadar dari kekhilafannya. Serta merta dia bangkit, ”Wahai Abu Ishak (begitu Ibrahim bin Adham biasa dipanggil), ternyata engkaulah guru kami yang baik !” katanya, lalu Al-Balkhi mohon diri dan berangkat melanjutkan usaha dagangnya.

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://taufans.blogsome.com/2008/09/26/belajar-dari-burung/trackback/

  1. Assalamu’alaikum (^_^)
    duw,bang BLOgna Subhanallah ,,
    dah Gtu namana “ReLIJI en SAYENS”
    bang ,,,
    always KeeP smiLe y (^_^)
    mga abang CLLU jdi YANG TERBAIK,,amien,,

    Comment by wiewieng — February 7, 2009 @ 7:55 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here